Myanmar Punya Program Nuklir?


AP PHOTO/KHIN MAUNG WIN
Anggota partai pejuang prodemokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi, duduk di luar markas besar partai di Yangon. Partai oposisi Myanmar ini memutuskan untuk memboikot, tidak mendaftar untuk pemilu yang rencananya digelar tahun ini.

BANGKOK, KOMPAS.com - Negara junta militer Myanmar telah memulai program senjata nuklir dengan bantuan Korea Utara. Kesaksian pembelot militer berpangkat mayor dan laporan sangat rahasia bertahun-tahun menguatkan hal itu.

Sebuah film dokumenter menunjukkan ribuan foto dan kesaksian pembelot yang menunjukkan ambisi nuklir dan jaringan terowongan bawah tanah rahasia, diduga dibuat dengan bantuan ahli Korea Utara, kata jaringan televisi Al Jazeera, Jumat (4/6).

Pemberitaan itu dibuat oleh kelompok berita Suara Demokrasi Burma (DVB) asal Norwegia dan disiarkan oleh Al Jazeera Jumat. Kabar itu telah membuat seorang senator Amerika Serikat membatalkan kunjungannya ke Myanmar, yang sebelumnya dikenal dengan nama Burma. Sebelumnya, Jim Webb dijadwalkan bertolak ke Myanmar, Kamis.

Namun ia mengatakan lawantan itu sebagai tindakan yang tidak bijaksana dan malah tidak produktif, sampai ada klarifikasi lebih lanjut terhadap tuduhan kerjasama dengan negara bersenjata nuklir Korea Utara tersebut. Webb mengatakan, hasil temuan ini berisi dugaan baru yang merujuk pada kemungkinan pemerintah Myanmar telah bekerja sama dengan Pyongyang, dalam usaha mengembangkan program nuklir.

Menurut laporan Al JAzeera dalam jejaringnya DVB, layanan berita yang dioperasikan oleh ekspatriat asal Myanmar, bukti program nuklir Myanmar datang dari bahan sangat rahasia yang diseludupkan keluar negeri dalam beberapa tahun terakhir. Penyelidikan bertahun-tahun ini termasuk ratusan dokumen dan bukti lain dari pembelot Myanmar, Mayor Sai Thein Win, yang mengatakan ia wakil komandan pabrik militer untuk membangun batalyon nuklir Myanmar. "Mereka sangat ingin membangun sebuah bom. Itu adalah tujuan utama," katanya dikutip dari film tersebut.

Dokumen yang melaporkan penyeludupan keluar Myanmar oleh Sai Thein Win telah dibaca oleh ahli termasuk Robert Kelley, mantan direktur "International Atomic Energy Agency, dalam film tersebut. "Kelihatannya seperti program senjata nuklir, karena tidak bisa dibayangkan penggunaan untuk tenaga nuklir atau hal seperti itu," katanya, menurut Al Jazeera.

Myanmar, yang menjadi junta militer sejak 1962, sebelumnya dituduh melanggar larangan Dewan Keamanan PBB berkaitan ekspor persenjataan Korea Utara, yang telah dijatuhkan pada Juni tahun lalu.



Terima Kasih Atas Kunjungan Anda Ke Blog Ini.Dan Folow AkuJagoan Dalam Facebook AkuJagoan.Dan Harap Untuk Mengisi Buku Tamu.Terima Kasih Atas PerhatianNya.


Ditulis Oleh : Fauzi Akbar // Jumat, Juni 04, 2010
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar