Indonesia Panen 10 Juta Ton, Pada 2014

JAKARTA, AkuJagoan.com - Indonesia akhirnya mampu menjadi produsen rumput laut terbesar dunia setelah melampaui Filipina, yang selama ini menjadi penghasil sea weed paling produktif.

Keberhasilan tersebut terjadi pada 2008 pada saat para petani rumput laut mampu menghasilkan sebanyak 2,145 juta ton rumput laut basah. Dalam empat tahun ke depan, target lima kali lipat pun menjadi harapan yang tidak mustahil.

"Kita menargetkan pada 2014 nanti akan mampu memproduksi sea weed sebanyak 10 juta ton rumput laut basah," kata Ketua Komisi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia, Farid Ma'ruf di Jakarta, Senin (12/7/2010).

Disebutkannya, pada ekspor dua tahun lalu saja, para petani telah berhasil mengeruk devisa sebesar 124,36 juta dollar AS.

Padahal ekspor tersebut 80 persennya masih berbentuk bahan baku, yaitu rumput laut kering. Sementara 20 persennya dikelola oleh 23 pabrik yang ada di Indonesia.

Tiga jenis rumput laut yang baru dibudidayakan di tanah air, sudah bisa diolah menjadi sekitar 500 jenis produk turunan seperti, obat-obatan, makanan dan kosmetik.

"Dalam waktu mendatang, kita berusaha agar pabrik-pabrik pengolah rumput laut bertambah, sehingga yang diekspor adalah barang-barang dalam bentuk jadi yang sudah siap digunakan konsumen," tandasnya.

Sementara Direktur Usaha dan Investasi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sadullah Muhdi mengatakan, meskipun pertumbuhan produksi rumput laut 2009, baru 5 persen, akan tetapi potensinya sangat besar sehingga target panenan sebanyak 10 juta ton bakal terpenuhi pada 2010.

"Memang saat ini pertumbuhannya sebesar 5 persen. Tetapi saya sangat yakin target bakal terpenuhi karena potensi di seluruh pulau di Indonesia sangat besar," ujar Sadullah.

Langkah yang dilakukan untuk mencapai target tersebut, jelasnya, pemerintah akan mengelompokkan para petani rumput laut dalam cluster.

Ada 14 cluster yang tahun ini sudah dibuat yaitu, di Kabupaten Pamekasan, Gorontalo, Sumba Timur, Pangkep, Dompu, Sumbawa Barat, Serang, Karimun, Minahasa Utara, Parigi Motong, Polewali Mandar, Baubau dan Raja Ampat.

Selain sistem cluster, pemerintah akan menerapkan aproval number bagi para pedagang rumput laut. Hal ini dilakukan agar tata niaga rumput laut ini tertib dan harga rumput laut tetap stabil.

"Selama ini banyak spekulan yang beli langsung ke petani, sehingga harga pun jadi tidak stabil. Kita menginginkan agar mereka memperdangkannya melalui jalur tata niaga kita," tandasnya.


Ditulis Oleh : Unknown // Senin, Juli 12, 2010
Kategori:

1 komentar:

  1. Wah ternyata negaraku hebat juga yach, bisa menghasilkan Panen 10 Juta Ton, Pada 2014, terus pada tahun 2010 ini panenya berapa Ton????

    BalasHapus