Harga Beras Melambung, Pedagang Limbung

PEKANBARU, AkuJagoan.com - Pendapatan pedagang beras di pasar-pasar tradisional Pekanbaru dalam dua bulan terakhir mengalami penurunan menyusul terjadinya kenaikan harga beras.

Beberapa pedagang yang ditemui di Pasar Pusat Pekanbaru, Selasa (20/7/2010) mengatakan, harga beras yang naik adalah beras bermutu bagus. Pada awal pekan ini kenaiknnya telah mencapai angka diatas 15 persen.

Edi pemilik toko grosir Resky Keluarga yang menjual kebutuhan pokok seperti beras, gula dan minyak goreng di Jalan Agussalim, Pasar Pusat Pekanbaru, mengakui kenaikan harga beras di Pekanbaru sudah berkali-kali terjadi dalam dua bulan terahir ini.

"Dalam dua pekan ini saja telah terjadi kenaikan harga beras sebanyak tiga kali, naiknya berkisar Rp 200-Rp 250 per kilogram tiap pekan," ungkap Edi.

Disebutkannya, jenis beras kualitas bagus yang mengalami kenaikan saat ini adalah beras yang berasal dari Palembang dengan merek Topi Koki.

Kini beras Topi Koki untuk tingkat grosir di jual seharga Rp 142 ribu per karung isi 20 kilogram atau Rp 7.100/Kg naik dari Rp 123 ribu per karung.

Demikian juga dengan beras merek Belida kini di tingkat grosir di jual Rp 152 ribu per karung isi 20 Kg, atau Rp 7.600/Kg, naik dari harga Rp 129 ribu.

Tidak ketinggalan beras mudik asal Sumatera Barat dengan jenis Anak Daro (AD) juga sudah ikut mengalami kenaikan harga jika sebelumnya di jual dengan harga Rp 6.800/Kg kini di jual Rp 7.500 per kilo.

"Jika di hitung kenaikan harga beras kualitas bagus ini sejak bulan April lalu sudah rata-rata diatas 15 persen, misalkan untuk beras Topi Koki sudah naik 15 persen, Belida naik 18 persen dan AD naik 17 persen," ujarnya.

Pedagang eceran sembako, Apok yang memiliki toko di di Jalan Durian menyebutkan, sejak kenaikan harga beras saat ini harga eceran beras kualitas bagus seperti Topi Koki dan Belida masing-masing naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.500 dan Rp 7.000 menjadi Rp 8.000 per kilogram.

Selain itu dengan adanya kenaikan ini omzet pedagang turun 30 persen. Meski diakuinya penurunan omzet ini bukan semata karena kenaikan harga akan tetapi juga di pengaruhi oleh menurunnya daya beli masyarakat akibat memasuki tahun ajaran baru.

"Memang sudah trendnya setiap memasuki tahun ajaran baru, bulan puasa dan lebaran, permintaan akan beras mengalami penurunan. Akan tetapi penurunan omzet ini semakin di perparah menjadi 30 persen setelah adanya kenaikan harga," tandasnya.

Ketika ditanyai terkait beredarnya beras jenis kualitas medium atau selevel beras Bulog, Edi kembali menjawab saat ini di pasaran tidak terlalu banyak beredar karena peminatnya tidak banyak.

"Meski beras kini mahal, namun masyarakat Pekanbaru sejak lama lebih senang mengonsumsi beras mutu bagus sedangkan beras dari Bulog tidak banyak peminatnya," ungkap Edi.


Ditulis Oleh : Unknown // Selasa, Juli 20, 2010
Kategori:

1 komentar:

  1. Wah nich emang dah nasib orang kecil, yang selalu memikirkan kenaikan harga barang, apakah petinggi kita juga memikirkan kenaikan barang ????

    BalasHapus