Penjara di Balai Kota (1)

KAMIS, 3 JUNI 2010 | 19:36 WIB

KOMPAS.com -- Tanggal 7 Juli 1710 akhirnya gedung balai kota yang baru, dapat diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck, demikian tertulis dalam buku Dari Stadhuis Sampai Museum. Balai Kota yang baru itu tak lain adalah gedung yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta (MSJ).

Itu artinya, pada 7 Juli mendatang, gedung itu berulangtahun ke-300 tahun. Sebuah perjalanan panjang menembus waktu, melewati tiga abad. Dalam rangka HUT Jakarta yang ke-483 dan HUT ke-300 tahun gedung bekas stadhuis (balai kota), maka selama Juni hingga Juli, tulisan mengenai stadhuis akan selalu mengisi website ini bergantian dengan persoalan Jakarta di usia yang nyaris menginjak 500 tahun.

Kisah dimulai dari keberadaan balai kota lama yang dibangun oleh Jan Pieterszoon (JP) Coen, yaitu di sebelah timur Kali Ciliwung, tak jauh dari jembatan gantung yang kini dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan. Balai kota lama di masa kini kira-kira ada di Jalan Tongkol, Jakarta Utara. Sayangnya, tak ada data gambar tentang bangunan tersebut.

Data tentang balai kota kedua dan balai kota yang kini jadi MSJ lebih lengkap dan disebutkan, peletakan batu untuk pembangunan balai kota kedua dilakukan pada 30 Mei 1626. Ide membangun kembali balai kota kedua datang dari Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier yang berkuasa pada 1623-1627. Peletakan batu pertama sengaja dilakukan pada 30 Mei sebab di abad itu, 30 Mei dirayakan sebagai hari berdirinya Kota Batavia.

Balai kota kedua itu berdiri di lokasi yang sama dengan stadhuis terakhir yang kemudian menjadi MSJ. Gedung yang saat pembangunan harus melalui masalah keuangan itu, berlokasi tak jauh dari lapangan pasar, namun kemudian nama lapangan itu menjadi stadhuisplein atau lapangan balai kota lebih mudah lagi, alun-alun.

Hans Bonke dan Anne Handojo dalam buku tersebut di atas menjelaskan, anggaran pembangunan balai kota kedua itu diambil dari pajak penduduk, semua penduduk Batavia, tak terkecuali. Hasilnya, terkumpul 12.500 rijksdaalders (mata uang Belanda di akhir abad 16- Red). Dan penyumbang terbesar tak lain adalah warga Tionghoa.

Gedung yang pembangunannya tidak diselesaikan ini mempunyai lonceng yang akan berbunyi manakala pintu-pintu kota ditutup dan pada saat eksekusi hukuman mati. Pada bagian belakang gedung ini terdapat lima sel. Dua sel di sebelah timur dipakai untuk pegawai VOC dan disebut Penjara Kompeni, sel lain untuk penduduk biasa. Selain itu, balai kota ini juga berfungsi sebagai gereja dan tempat pemakaman.

JP Coen adalah salah satu “penghuni” makam di balai kota kedua ini. Saat ia meninggal pada 1629, jasadnya dimakamkan di sana dan pada 1634 dipindahkan ke gereja baru, Hollandse Kerk (kini menjadi Museum Wayang).

Sekitar 20 tahun kemudian, 1648, Gubernur Jenderal Cornelis van der Lijn yang berkuasa pada 1645-1650, mulai “gerah” atas kondisi balai kota yang compang-camping, termasuk karena atap yang dibangun pertama dibikin datar sehingga perlu dibikin atap baru.

Lagi-lagi, perbaikan balai kota ini pun mengalami kendala meski akhirnya kelar pada 1652. Bonke dan Handojo menjelaskan, bangunan bergaya Corinth itu naik sekitar 0,5 cm, pintu masuk terbuat dari batu alam. Gedung dibangun dengan dua tingkat dan jendela kaca besar dan berteralis. Di atas atap di bagian pintu masuk gedung dipasang patung yang kemungkinan menggambarkan Dewi Justitia, Dewi Keadilan.

Data lain soal balai kota yang diperbarui ini adalah halaman belakang gedung ini berbatasan dengan tembok membatasi balai kota dengan Tijgergracht (Jalan Pos Kota) di timur, dan di barat tembok memanjang mengikuti Binnen Niewpoortstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Seperti bangunan awalnya, di bagian belakang gedung balai kota masih terdapat sel-sel penjara.

Seperti pada pembangunan balai kota kedua, perbaikan gedung balai kota ini juga dibebankan ke penduduk melalui pajak yang sangat tinggi.


Terima Kasih Atas Kunjungan Anda Ke Blog Ini.Dan Folow AkuJagoan Dalam Facebook AkuJagoan.Dan Harap Untuk Mengisi Buku Tamu.Terima Kasih Atas PerhatianNya


Ditulis Oleh : Fauzi Akbar // Kamis, Juni 03, 2010
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar