Nenek 110 Tahun Doyan Kopi Dan Rokok


SURYA.co.id/Renni Susilawati
Mbok Mani, warga RT 4/RW 2, Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kota Batu. Ia masih suka minum kopi dan rokok di usia 110 tahun.

BATU, KOMPAS.com — Siapa perempuan tertua di Tanah Air? Juaranya mungkin baru akan diketahui bila sensus atau cacah jiwa penduduk rampung dikerjakan Badan Pusat Statistik atau BPS.

Beberapa waktu lalu, di Jawa Barat, petugas sensus menemukan tiga perempuan berusia lebih dari 100 tahun di Desa Cogreg, Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka adalah Minah (120), Kalsem (115), dan Suki (107). Namun, Minah mengaku tak tahu persis tahun kelahirannya, dan diduga lahir sebelum 1900.

Namun, di Jawa Timur, jagonya mungkin Mbok Mani, warga Kota Batu, dekat Kota Malang, yang mengaku berusia 110 tahun dan ingatannya cukup akurat.

Kepala BPS Batu Indria Purwaningsih mengungkapkan, Mbok Mani masih sanggup bekerja di ladang. Reporter harian SURYA (Kompas Gramedia Group) lalu mengecek di rumahnya, RT 4/RW 2, Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Selasa (18/5/2010).

Nenek itu tampak sehat. “Saya masih ingat betul, pertama kali nikah tahun 1913, dan waktu itu umur saya masih 13 tahun. Saya dilarang menikah oleh petugas naib (penghulu pada zaman Belanda). Akhirnya, pernikahan saya dengan Na’im harus ditunda setahun,” kenang Mbok Mani.

Orangtua Mbok Mani merupakan salah satu pendiri Dusun Toyomerto, Kota Batu. Saat dia lahir di kaki Gunung Panderman, jumlah warganya hanya 18 orang. “Dulu di sini sunyi sekali karena rumah satu dengan yang lainnya berjauhan. Untuk mendapatkan uang beli beras, saya harus turun gunung menjual sayur dan daun pisang ke Pasar Batu, yang sekarang jadi Alun-Alun Batu,” ujar Mbok Mani.

Meskipun berkeriput, badan Mbok Mani sehat. Setiap hari kegiatan utamanya adalah bercocok tanam di ladang cabe dan sawi miliknya. Bahkan, Mbok Mani pun melakukan pekerjaan yang sama dengan pekerja-pekerja lain, seperti menyiangi dan mencangkul di ladangnya.

Pada tahun 1970 hingga tahun 2000—saat berusia 100 tahun—Mbok Mani menjadi ketua pengajian di Toyomerto. Dia masih kuat mengitari semua rumah warga hingga larut malam, meski topografi kaki Panderman bergelombang.

“Saya tak pernah sakit. Sakit terparah saya seumur hidup hanya ketika keseleo karena tersandung saat di ladang. Pendengaran dan mata saya pun masih jelas,” ujar Mbok Mani.

***

NENEK yang terlihat lebih lugu ini memiliki daya ingat atas beberapa peristiwa penting masih bagus. Misalnya, dia masih ingat penyebab perceraiannya dengan Na’im, suami pertama, yaitu karena dia tak mau memasak dan melayani suami. Penyebab itu kini dia maklumi karena saat menikah dia masih terlalu hijau dan masih seperti anak kecil yang terus ingin bermain-main.

“Saya menikah lagi tahun 1918 dengan pemuda Pesanggrahan, Ismad. Saat itu saya sudah cukup dewasa. Tetapi sayang, hingga suami meninggal—sebelum Jepang masuk ke Indonesia—kami tak memiliki anak,” ungkapnya.

Karena tak punya anak kandung, Mbok Mani mengangkat seorang keponakan (anak adiknya) menjadi anak. Kini dia memiliki satu cucu dan satu cicit.

Apa rahasia sehatnya selama ini? Ditanya demikian, Mbok Mani terkekeh. Ternyata, pertanyaan itu sangat sering dilontarkan orang-orang kepada dirinya.

“Saya ini orang desa yang sejak zaman Belanda hingga kini hidup sederhana. Saya tak pernah suka makan daging atau ikan, hanya makan sayuran dan tempe. Tetapi, beberapa gelas kopi dan rokok harus tetap ada untuk membangkitkan semangat bekerja,” paparnya.

Setiap hari, Mbok Mani menghabiskan lima-enam cangkir kopi dan dua-tiga batang rokok. Kebiasaan itu ternyata tak berpengaruh terhadap kondisi kesehatan paru-paru dan jantung. “Yang penting kita ikhlas dan tak iri hati menjalani hidup. Maka dengan begitu, kita tetap sehat badan dan pikiran juga,” tandasnya.

Sementara itu, di Kabupaten Sumenep, Mohammad Rafiudin, warga Dusun Barat Gunung, Barakas, Matanair, Kecamatan Rubaru, mengaku berumur sekitar 160 tahun. Pengakuan ini membuat bingung Mohammad Anwar (30), petugas sensus penduduk yang mendata Rubaru.


Ditulis Oleh : Fauzi Akbar // Rabu, Mei 19, 2010
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar